Sejarah samurai dari musashi hingga “The last Samurai” takamori

Sejarah samurai dari musashi hingga “The last Samurai” takamori - Pencarian kesenian dan tarian budaya dengan kata kunci " Sejarah samurai dari musashi hingga “The last Samurai” takamori " di temukan di suog.co. Untuk mencari informasi atau artikel sejarah yang sesuai dengan tarian, lagu daerah, alat musik tradisional, budaya, gambar, kesenian, asal usul, asal muasal, cerita rakyat anda dapat menuliskan kata kunci yang ada pada kolom pencarian yang sudah tersedia.

Dengan semakin berkembang nya teknologi internet, situs suog.co berusaha untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan sejarah di dunia, khususnya kesenian. Situs suog.co memiliki ratusan artikel kesenian tari dan alat musik tradisional misal " Sejarah samurai dari musashi hingga “The last Samurai” takamori " yang di anda jadikan masukan atau bahan referensi ilmu pengetahuan anda.

Baca : Sejarah samurai dari musashi hingga “The last Samurai” takamori
Samurai jepang pertama

Samurai jepang pertama

Asal usul samurai – Prajurit Samurai merupakan kasta sosial tertinggi di Jepang. Mereka terkenal karena keterampilan pertempurannya yang menakutkan dan diabadikan dalam budaya populer sejak berakhirnya pada akhir abad ke-19.

Namun, seperti dilaporkan Mail Online, koleksi potret menarik dari prajurit Samurai sebenarnya yang diambil dalam dekade sebelum reformasi ini, telah memberikan wawasan ke dalam kehidupan militer otentik di Jepang pra-modern.

Beberapa tampak berpakaian khas Tosei-gusoku, atau berlapis baju besi, sementara beberapa terlihat dalam gaya jubah kimono. Namun hampir semuanya menggenggam senjata paling terkenal Samurai, dan mungkin senjata ikonik yang paling mematikan.

Dua dari foto-foto tersebut menggambarkan kelompok yang sedang mengambil bagian dalam upacara bunuh diri yang dikenal sebagai harakiri, bagian dari kode prajurit yang memilih kehormatan daripada dikalahkan oleh musuh mereka. Diduga telah diambil pada tahun 1860-an, potret-potret ini dibuat pada saat perubahan besar dalam kekuasaan di Jepang.

Periode Edo telah menjadi pemerintah feodal militer Tokugawa Shogunate yang menguasai Jepang selama lebih dari 250 tahun, dan pembentukan sistem kasta sosial yang kaku menempatkan Samurai ditempatkan di bagian atas.

Sejarah Samurai dimulai dari periode Heian pada 710 M dalam kampanye khusus untuk menaklukkan Emirishi di wilayah Tohuku di bagian utara Honshu.

Selama berabad-abad mereka menjadi lebih kuat dan akhirnya menjadi ‘prajurit bangsawan’ di Jepang, yang membentuk kelas penguasa dari sekitar abad ke-12 sampai abad ke-19.

Pada saat Kaisar Meiji berkuasa pada tahun 1868, prajurit samurai mulai sedikit-demi sedikit dihapuskan. Pertama, dilucuti haknya untuk menjadi satu-satunya kekuatan bersenjata di Jepang, dan mulai memperkenalkan gaya militer Barat dari tahun 1873.

Samurai Warrior

Samurai adalah istilah untuk perwira militer kelas elit sebelum zaman industrialisasi di Jepang. Kata “samurai” berasal dari kata kerja “samorau” asal bahasa Jepang kuno, berubah menjadi “saburau” yang berarti “melayani”, dan akhirnya menjadi “samurai” yang bekerja sebagai pelayan bagi sang majikan.

Istilah yang lebih tepat adalah bushi (harafiah: “orang bersenjata”) yang digunakan semasa zaman Edo. Bagaimanapun, istilah samurai digunakan untuk prajurit elit dari kalangan bangsawan, dan bukan contohnya, ashigaru atau tentara berjalan kaki. Samurai yang tidak terikat dengan klan atau bekerja untuk majikan (daimyo) disebut ronin (harafiah: “orang ombak”). Samurai yang bertugas di wilayah han disebut hanshi.

Samurai harus sopan dan terpelajar, dan semasa Keshogunan Tokugawa berangsur-angsur kehilangan fungsi ketentaraan mereka. Pada akhir era Tokugawa, samurai secara umumnya adalah kakitangan umum bagi daimyo, dengan pedang mereka hanya untuk tujuan istiadat. Dengan reformasi Meiji pada akhir abad ke-19, samurai dihapuskan sebagai kelas berbeda dan digantikan dengan tentara nasional menyerupai negara Barat. Bagaimanapun juga, sifat samurai yang ketat yang dikenal sebagai bushido masih tetap ada dalam masyarakat Jepang masa kini, sebagaimana aspek cara hidup mereka yang lain.

Perkataan samurai berasal pada sebelum zaman Heian di Jepang di mana bila seseorang disebut sebagai saburai, itu berarti dia adalah seorang suruhan atau pengikut. Hanya pada awal zaman modern, khususnya pada era Azuchi-Momoyama dan awal periode/era Edo pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 perkataan saburai bertukar diganti dengan perkataan samurai. Bagaimanapun, pada masa itu, artinya telah lama berubah, yang kemudian berubah pengertian menjadi “orang yang mengabdi”.

Namun selain itu dalam sejarah militer Jepang, terdapat kelompok samurai yang tidak terikat/mengabdi kepada seorang pemimpin/atasan yang dikenal dengan rōnin. Rōnin ini sudah ada sejak zaman Muromachi (1392). istilah rōnin digunakan bagi samurai tak bertuan pada zaman Edo (1603 – 1867). Dikarenakan adanya pertempuran yang berkepanjangan sehingga banyak samurai yang kehilangan tuannya kehidupan seorang rōnin bagaikan ombak dilaut tanpa arah tujuan yang jelas. Ada beberapa alasan seorang samurai menjadi rōnin. Seorang samurai dapat mengundurkan diri dari tugasnya untuk menjalani hidup sebagai rōnin. Adapula rōnin yang berasal dari garis keturunan, anak seorang rōnin secara otomatis akan menjadi rōnin. Eksistensi rōnin makin bertambah jumlahnya diawali berakhirnya perang Sekigahara (1600), yang mengakibatkan jatuhnya kaum samurai/daimyo yang mengakibatkan para samurai kehilangan majikannya.

Dalam catatan sejarah militer di Jepang, terdapat data-data yang menjelaskan bahwa pada zaman Nara (710 – 784), pasukan militer Jepang mengikuti model yang ada di Cina dengan memberlakukan wajib militer dan dibawah komando langsung Kaisar. Dalam peraturan yang diberlakukan tersebut setiap laki-laki dewasa baik dari kalangan petani maupun bangsawan, kecuali budak, diwajibkan untuk mengikuti dinas militer. Secara materi peraturan ini amat berat, karena para wakil tersebut atau kaum milter harus membekali diri secara materi sehingga banyak yang menyerah dan tidak mematuhi peraturan tersebut. Selain itu pula pada waktu itu kaum petani juga dibebani wajib pajak yang cukup berat sehingga mereka melarikan diri dari kewajiban ini. Pasukan yang kemudian terbentuk dari wajib militer tersebut dikenal dengan sakimori yang secara harfiah berarti “pembela”, namun pasukan ini tidak ada hubungannya dengan samurai yang ada pada zaman berikutnya.

Setelah tahun 794, ketika ibu kota dipindahkan dari Nara ke Heian (Kyoto), kaum bangsawan menikmati masa kemakmurannya selama 150 tahun dibawah pemerintahan kaisar. Tetapi, pemerintahan daerah yang dibentuk oleh pemerintah pusat justru menekan para penduduk yang mayoritas adalah petani. Pajak yang sangat berat menimbulkan pemberontakan di daerah-daerah, dan mengharuskan petani kecil untuk bergabung dengan tuan tanah yang memiliki pengaruh agar mendapatkan pemasukan yang lebih besar. Dikarenakan keadaan negara yang tidak aman, penjarahan terhadap tuan tanah pun terjadi baik di daerah dan di ibu kota yang memaksa para pemilik shoen (tanah milik pribadi) mempersenjatai keluarga dan para petaninya. Kondisi ini yang kemudian melahirkan kelas militer yang dikenal dengan samurai.

Kelompok toryo (panglima perang) dibawah pimpinan keluarga Taira dan Minamoto muncul sebagai pemenang di Jepang bagian Barat dan Timur, tetapi mereka saling memperebutkan kekuasaan. Pemerintah pusat, dalam hal ini keluarga Fujiwara, tidak mampu mengatasi polarisasi ini, yang mengakibatkan berakhirnya kekuasaan kaum bangsawan.

Kaisar Gonjo yang dikenal anti-Fujiwara, mengadakan perebutan kekuasaan dan memusatkan kekuasaan politiknya dari dalam o-tera yang dikenal dengan insei seiji. Kaisar Shirakawa,menggantikan kaisar Gonjo akhirnya menjadikan o-tera sebagai markas politiknya. Secara lihai, ia memanfaatkan o-tera sebagai fungsi keagamaan dan fungsi politik.

Tentara pengawal o-tera, souhei pun ia bentuk, termasuk memberi sumbangan tanah (shoen) pada o-tera. Lengkaplah sudah o-tera memenuhi syarat sebagai “negara” di dalam negara. Akibatnya, kelompok kaisar yang anti pemerintahan o-tera mengadakan perlawanan dengan memanfaatkan kelompok Taira dan Minamoto yang sedang bertikai.

Keterlibatan Taira dan Minamoto dalam pertikaian ini berlatar belakang pada kericuhan yang terjadi di istana menyangkut perebutan tahta, antara Fujiwara dan kaisar yang pro maupun kotra terhadap o-tera. Perang antara Minamoto, yang memihak o-tera melawan Taira, yang memihak istana, muncul dalam dua pertempuran besar yakni Perang Hogen (1156) dan Perang Heiji (1159). Peperangan akhirnya dimenangkan oleh Taira yang menandai perubahan besar dalam struktur kekuasaan politik. Untuk pertama kalinya, kaum samurai muncul sebagai kekuatan politik di istana.

Makna Bushido dan Samurai

Asal muasal kaum samurai dimulai pada keluarga Yamato, yaitu klan terkuat dijepang hingga abad ketujuh masehi.
Istilah samurai, berasal kata kerja bahasa jepang SABURAU yang bearti MELAYANI.sedang pedang yang digunakan adalah KATANA.

Bushido terdiri dari kata BUSHI(Ksatria atau Prajurit) dan DO arti (Jalan), bearti Bushido (Jalan Ksatria) bahwa merupakan sebuah sistem etika atau aturan moral kesatria yang berlaku dikalangan samurai dijaman jepang dulu “Abad 12-19”

Bushido sudah terimplementasi di dalam diri rakyat jepang sejak dulu, berikut nilai-nilai Bushido tersebut :

“Diantara bunga-bunga ada sakura, Diantara laki-laki ada samurai”

Gi = Integrasi : Mempertahankan Etika

Senantiasa mempertahankan etika,moralitas, dan kebenaran, integritas merupakan nilai Bushido yang paling utama, kata integritas mengandung arti keutuhan meliputi seluruh aspek kehidupan, terutama antara pikiran,perkataan, dan perbuatan. Nilai ini sangat dijunjung tinggi dalam falsafah Bushido.

“Pemimpin yang sesungguhnya memahami bahwa tindakan mereka harus ditentukan oleh integritasnya, untuk menarik pengikut, lakukan ketulusan dan hargai komitmenmu”
Hideyoshi

Yu=Keberanian : Berani dalam menghadapi kesulitan

Berani dalam menghadapi kesulitan dan kegagalan, keberanian merupakan sebuah karakter dan sikap untuk bertahan demi prinsip kebenaran yang dipercayai meski mendapat berbagai tekanan dan kesultan, keberanian merupakan ciri-ciri samurai, mereka siap dengan resiko apapun termasuk mempertaruhkan nyawa demi memperjuangkan keyakinan. keberanian samurai tercermin dalam prinsipnya yang menganggap hidupnya” Tidak lebih berharga dari sehelai bulu ”

“Seseorang yang batinnya memang pemberani akan menunjukkan loyalitas dan kasih sayang pada majikan dan orang tua, mereka juga mempunyai kesabaran,sikap toleran,serta menghargai apa saja”

Jin=Kemurahan hati untuk sesama, kasih sayang dan simpati

Mencintai sesama, kasih sayang, dan simpati, Bushido memiliki aspek keseimbangan antara maskulin(YIN) dan Feminin(YANG), Jin memiliki sifat feminin, meski berlatih pedang dan strategi perang, para samurai harus memiliki sifat pengasih, dan peduli sesama manusia

“Jadilah yang pertama dalam memaafkan”

Rei=Santun, Hormat pada orang lain

Bersikap santun dan hormat pada orang lain, ksatria tidak pernah bersikap kasar dan ceroboh, namun senantiasa menggunakan etikanya secara sempurna sepanjang waktu, sikap santun dan hormat tidak sajaditujukan pada pemimpin dan orang tua, namun tamu atau siapa saja yang ditemui, sikap santun meliputi cara duduk,berbicara bahkan memperlakukan benda dan senjata, hingga saat ini kesantunan samurai masih terlihat pada cara orang jepang merundukan kepala sebagai tanda hormat.

“Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen, tapi..mereka tidak melihat 99 persen kegagalan saya”
Soichiro Honda(Pendiri Honda Corporation Jepang)

Shin=Kejujuran dan Tulus dan Ikhlas

Jujur dan tulus ikhlas merupakan kode etik samurai yang bearti berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai dengan kenyataan dan kebenaran, para kesatria harus menjaga ucapannya dan selalu waspada.

“Melakukan apa yang katakan, mereka membuat janji dan berani menepatinya”
“Perkataan samurai lebih kuat dari besi”

Meiyo=Nama baik,Kemulian dan menjaga kehormatan

Kemuliaan dan menjaga kehormatan, bagi samurai menjaga kehormatan adalah dengan menjalankan kode etik Bushido secara konsisten sepanjang waktu

Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa jepang,Harakiri ritual bunuh diri samurai ketika kalah perang, dan sekarang diganti dengan Mengundurkan diri dari jabatan apabila bersalah.

“Samurai akan menghormati etika,bukan talenta dan mereka menghormati perbuatan, bukan pengetahuan”

Chugo=Kesetian: Loyal pada pemimpin dan guru

Kesetian ditunjukkan dengan dedikasi yang tinggi dalam melaksanakan tugas, kesetian seorang ksatria tidak saja saat pemimpinnya dalam keadaan sukses, bahkan dalam masa gelap, kehormatan seorang samurai adalah mati dalam tugas dan perjuangan.

” Seorang ksatria mempersembahkan seluruh kehidupannya, untuk melakukan pelayanan tugas”

Tei=Peduli pada yang lebih tua dan menghargai tradisi

Peduli pada yang lebih tua atau pemimpin dan rendah hati, ksatria sangat menghormati dan peduli pada orang yang lebih tua,baik orang tua sendiri maupun leluhurnya, mereka memahami silsilah keluarga dan negara sendiri.

“Tak peduli seberapa banyak kau menanamkan loyalitas dan kewajiban keluarga didalam hati, tanpa perilaku baik untuk mengekpresikan rasa hormat dan peduli pada pemimpin dan orang tua, maka kau tak bisa dikatakan sudah menghargai carahidup samurai”

Senjata para Samurai

KATANA

Katana (刀) adalah pedang panjang Jepang (daitō, 大刀), walaupun di Jepang sendiri ini merujuk pada semua jenis pedang. Katana adalah kunyomi (sebutan Jepang) dari bentuk kanji 刀; sedangkan onyomi (sebutan Hanzi) karakter kanji tersebut adalah tō. Ia merujuk kepada pedang satu mata, melengkung yang khusus yang secara tradisi digunakan oleh samurai Jepang.

Katana biasanya dipasangkan dengan wakizashi atau shōtō, bentuknya mirip tapi dibuat lebih pendek, keduanya dipakai Oleh anggota kelas ksatria. Kedua senjata dipakai bersama-sama disebut daishō, dan mewakili kekuatan sosial dan kehormatan pribadi samurai. Pedang panjang dipakai untuk pertempuran terbuka, sementara yang lebih pendek dipakai sebagai senjata sampingan (side arm), lebih cocok untuk menikam, pertempuran jarak dekat, dan seppuku (suatu bentuk ritual bunuh diri).

Katana terutama digunakan untuk memotong,dan diutamakan dipakai dengan dua pegangan tangan. Berbeda dengan kebanyakan pedang dari negara manapun, Katana memiliki cara peletakan yang berbeda pada pinggul pemakainya, tidak seperti pedang lain yang menyandang pedang dengan mata pedang mengarah ke bawah, katana justru sebaliknya, mata pedangnya mengarah ke atas, ini dimaksud untuk mempermudah seorang samurai dalam melakukan aktivitasnya, termasuk sumpah darah, cukup dengan menarik sedikit saja gagang pedang dan menggoreskan ibu jari pada mata pedang. Sementara seni praktis penggunaan pedang untuk tujuannya semula telah usang, kenjutsu dan laijutsu beralih menjadi seni beladiri modern.

WAKIZASHI

Wakizashi (bahasa Jepang: 脇差) adalah pedang Jepang tradisional dengan panjang mata bilah antara 30 dan 60 sentimeter (antara 12 hingga 24 inci), serupa tetapi lebih pendek bila dibandingkan dengan katana yang sering dikenakan bersama-sama. Apabila dikenakan bersama, pasangan pedang ini dikenali sebagai daisho, yang apabila diterjemahkan secara harafiah sebagai “besar dan kecil”; “dai” atau besar untuk katana, dan “sho” untuk wakizashi.

Wakizashi diperbuat dengan bentuk “zukuri” dan “niku” yang berbeda, dan biasanya, tebal bilah pedangnya lebih tipis dibandingkan dengan katana. Ia seringkali dikatakan mempunyai “kurang niku” (yang artnya secara harfiah ‘daging’, ukuran bagaimana bengkoknya convex mata bilah itu) dan dengan itu memotong sasaran “lembuh” lebih dashyat berbanding katana.

Wakizashi digunakan sebagai senjata samurai apabila tidak ada Katana. Apabila memasuki bangunan suci atau bangunan istana, samurai akan meninggalkan katananya pada para pengawal pada pintu masuk. Namun, wakizashi selalu tetap dibawa pada setiap waktu, dan dengan itu, ia menjadi senjata bagi samurai, serupa seperti penggunaan pistol bagi tentara. Seseorang samurai akan mengenakannya ketika dia sadar bahkan sewaktu mereka tidur, senjata itu tetap berada disampingnya. Pada masa silam, terutamanya semasa perang saudara, tanto dikenakan bagi menggantikan wakizashi.

tanto (短刀, “pedang pendek”

adalah salah satu pedang Jepang tradisional (nihontō) yang dipakai oleh kelas samurai Jepang feodal. Para tanto tanggal untuk periode Heian, ketika sebagian besar digunakan sebagai senjata tetapi berkembang dalam desain selama bertahun-tahun untuk menjadi lebih penuh hiasan. Tanto digunakan dalam seni bela diri tradisional (tantojutsu) dan melihat kebangkitan digunakan di Barat pada tahun 1980 sebagai desain membuat jalan ke Amerika dan merupakan pola umum yang ditemukan di pisau pisau taktis modern.

Dengan alasan hak cipta (copyright) atas artikel asal usul dengan judul Sejarah samurai dari musashi hingga “The last Samurai” takamori yang merupakan hasil tulisan dari beberapa sumber yang ada di internet. suog.co hanya menampilkan sebagian isi dari Sejarah samurai dari musashi hingga “The last Samurai” takamori. Untuk memudahkan pencarian artikel asal usul, suog.co juga menyediakan layanan pencarian artikel seputar sejarah, seperti Sejarah samurai dari musashi hingga “The last Samurai” takamori yang dapat anda temukan dengan layanan pencarian yang sudah tersedia. Dan seluruh artikel asal usul yang terdapat di suog.co ini kami ambil dari beberapa blog atau situs kesenian dan sejarah yang sudah terpercaya. Oleh karena itu, jika anda ingin melihat lebih jelas Sejarah samurai dari musashi hingga “The last Samurai” takamori secara lengkap, anda dapat mencari beberapa artikel sejarah pada kolom pencarian yang sudah di sediakan.

Artikel seni budaya di cari :

gambar ular jamang, download video tarian tradisional yang mudah, kalung penari dayak, keunikan benda-benda tari piring, properti buat nari manuk dadali