Sejarah dan peninggalan kerajaan samudra pasai

Peta kerajaan samudra pasai

Peta kerajaan samudra pasai

Latar belakang berdirinya kerajaan samudra pasai – Kerajaan Samudera Pasai merupakan kerajaan Islam yang ada di Propinsi Aceh. Inilah kerajaan Islam pertama yang berdiri di tanah Nusantara. Pendiri dari kerajaan Samudera Pasai adalah Marah Silu yang memperoleh gelar bernama Sultan Malik Al-Saleh. Kejayaan dari Samudera Pasai tidak bertahan lama. Berdiri tahun 1267 dan harus runtuh akibat serangan Portugal di tahun 1521 menjadi akhir keberadaan Samudera Pasai.

Meskipun sudah terhitung memiliki jarak yang lama dengan tahun sekarang ini, peninggalan-peninggalan sejarah Samudera Pasai masih dapat disaksikan secara langsung yang di wariskan untuk para penerus bangsa. Seperti berikut ini :

Bukti peninggalan kerajaan samudra pasai

Uang Koin Dirham

Di jaman dulu uang Dirham tidak pakai kertas, makanya uang Dirham dari kerajaan Samudra Pasai terbuat dari 70% emas murni 18 karat tanpa campuran bahan kimia. Uang koin Dirham ini hanya berdiameter 10 mm dan berat sekitar 0,6 gram.

Uang koin ini dicetak dua jenis yaitu satu Dirham dan setengah Dirham, dengan karakteristiknya di satu sisinya tercetak tulisan Muhammad Malik Al-Zahir dan di satu sisi lainnya tercetak tulisan nama Al-Sultan Al-Adil.

Uang koin Dirham ini digunakan sebagai alat transaksi oleh penduduk kerajaan Samudra Pasai sampai pada tahun 1942 masehi. Tapi, sampai sekarang, khusus di daerah Sumatera Barat masih ditemukan orang yang memakai satuan mas Dirham ini yaitu 1 mas sama dengan 2,5 gram.

Cakra Donya

Peninggalan kerajaan Samudra Pasai selanjutnya adalah Cakra Donya, yaitu sebuah lonceng berbentuk stupa buatan China dengan tinggi 125 cm dan lebar 75 cm. Lonceng ini dikeramatkan oleh penduduk Aceh sampai sekarang.

Dibagian luarnya ada sebuah hiasan dan simbol berbentuk aksara China dan Arab, dimana aksara Arab tidak bisa lagi dibaca karena sudah mengalami keausan, sedangkan aksara China bertuliskan Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo.

Intinya, Cakra Donya adalah lonceng impor yang merupakan hadiah dari salah satu kekaisaran China untuk kerajaan Samudra Pasai, dimana sejak bangsa Portugis berhasil dikalahkan oleh Sultan Ali Mughayat Syah, lonceng ini dipindah ke Banda Aceh.

Naskah Surat Sultan Zainal Abidin

Naskah surat Sultan Zainal Abidin adalah sebuah surat yang ditulis langsung oleh Sultan Zainal Abidin sebelum dia meninggal pada tahun 1518 Masehi yang ditujukan kepada Kapten Moran yang merupakan wakil raja Portugis di India.

Surat yang ditulis mengunakan bahasa Arab ini berisi penjelasan tentang kondisi dan keadaan, serta gambaran situasi terakhir kerajaan Samudra Pasai setelah bangsa Portugis berhasil menaklukan Malaka pada tahun 1511 Masehi.

Selain itu, beberapa nama kerajaan yang sangat berhubungan erat dengan kerajaan Samudra Pasai juga ikut disebutkan dalam surat tersebut seperti Negeri Mulaqat (Malaka) dan Fariyaman (Pariaman).

Stempel Kerajaan

Peninggalan kerajaan Samudra Pasai yang terakhir yaitu berupa stempel Kerajaan yang diperkirakan milik sultan kedua kerajaan Samudra Pasai yaitu Sultan Muhamad Malikul Zahir. Stempel ini ditemukan di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Aceh Utara.

Stempel yang berukuran 2×1 cm ini terbuat dari sejenis tanduk hewan dan kondisi saat ditemukannya stempel tersebut sudah patah dibagian gagangnya. Diperkirakan stempel ini digunakan sampai akhir pemerintahan kerajaan Samudra Pasai.

Sejarah dan peninggalan kerajaan samudra pasai