Sejarah dan asal usul batu bacan

Foto batu bacan

Foto batu bacan

Jauh sebelum masyarakat menggemari batuan mulia, kepopuleran batu Bacan sudah sejak lama dikenal. Maklum, batu alam ini digunakan sebagai perhiasan pada masa kesultanan (Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan). Nama “Bacan” adalah nama sebuah pulau yang teletak di sebelah barat daya pulau Halmahera. Pulau ini masuk dalam  Kabupaten Halmahera Selatan provinsi Maluku Utara.

Sebenarnya, awalnya batu Bacan tidaklah ditambang di Pulau Bacan melainkan di Pulau Kasiruta yang terletak di sebelah barat Pulau Bacan. Lalu kenapa nama Bacan yang justru terkenal? ini terjadi karena ibukota Kabupaten Halmahera Selatan yaitu Labuha berada di Pulau Bacan sehingga justru nama Bacanlah yang terkenal.

Walaupun demikian, desa-desa yang ada di Pulau Kasiruta yang menjadi tempat penambangan batu ini juga diikutkan misalnya Bacan Doko yang mengacu pada Desa Doko yang justru terdapat di Kasiruta.

Irwan Muksin,dkk dalam laporannya mengenai Eksplorasi Umum Batumulia Di Daerah Pulau Kasiruta Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara mengungkapkan bahwa Potensi batu mulia di Pulau Kasiruta terpusat di bagian barat pulau Kasiruta, terutama di sekitar wilayah Desa Palamea, Desa Doko, Desa Bisori dan Desa Imbuimbu.

Pulau batu bacan

Pulau batu bacan

Lebih lanjut penelitian tersebut menemukan bahwa batumulia krisokola di daerah Pulau Kasiruta ini tersebar di tujuh lokasi meliputi wilayah empat desa, yaitu Desa Palamea, Desa Imbuimbu, Desa Doko dan Desa Bisori. Sedangkan batumulia jasper tersebar di dua desa yakni Desa Doko dan Desa Imbuimbu.

Begitu terkenalnya batu bacan sehingga batu mulia ini menjadi cinderamata berharga yang diberikan kepada berbagai pemimpin dunia. Beberapa diantaranya adalah Presiden Soekarno saat mengunjungi Pulau Bacan. Juga dijadikan hadiah oleh Presiden SBY kepada Presiden Amerika, Barrack Obama dalam sebuah pertemuan di Bali.

Popularitas batu bacan semakin terangkat pada tahun 1994 ketika pasar luar negeri mulai memburu batu jenis ini. Dan mencapai puncaknya sejak tahun 2005 lalu hingga saat ini.

Seiring dengan semakin besarnya animo masyarakat terhadap batu bacan, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan berencana membangun monumen batu bacan di Kota Labuha yang ditujukan untuk memperkenalkan Halmahera Selatan sebagai pusat batu akik di Indonesia.

Sejarah dan asal usul batu bacan