Sejarah berdirinya klub sepakbola inggris leicester city

Sejarah berdirinya klub sepakbola inggris leicester city - Pencarian kesenian dan tarian budaya dengan kata kunci " Sejarah berdirinya klub sepakbola inggris leicester city " di temukan di suog.co. Untuk mencari informasi atau artikel sejarah yang sesuai dengan tarian, lagu daerah, alat musik tradisional, budaya, gambar, kesenian, asal usul, asal muasal, cerita rakyat anda dapat menuliskan kata kunci yang ada pada kolom pencarian yang sudah tersedia.

Dengan semakin berkembang nya teknologi internet, situs suog.co berusaha untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan sejarah di dunia, khususnya kesenian. Situs suog.co memiliki ratusan artikel kesenian tari dan alat musik tradisional misal " Sejarah berdirinya klub sepakbola inggris leicester city " yang di anda jadikan masukan atau bahan referensi ilmu pengetahuan anda.

Baca : Sejarah berdirinya klub sepakbola inggris leicester city
Perayaan kemenangan liecester city

Perayaan kemenangan liecester city

Liecester city juara liga inggris – Leicester City F.C. adalah sebuah tim sepak bola Inggris berbasis di Leicester. Tim ini didirikan tahun 1884. Klub ini memainkan pertandingan kandangnya di Stadion King Power yang berkapsitas 32.000 penonton.

Seragam mereka berwarna biru dan celana putih. Klub ini kini berlaga di Liga Championship Inggris.

Nama lengkap : Leicester City Football Club
Julukan : The Foxes, The Filberts, The Blues
Didirikan : 1884 (sebagai Leicester Fosse)
Stadion : King Power, Leicester (Kapasitas: 32.262)
Pemilik : King Power / Asian Football Investments

Kisah cerita perjalanan The Foxes (Leicester City) di Liga Inggris telah klimaks. Hasil 3-1 melawan Everton di King Power kandang Leicester mempertegas status mereka sebagai Juara Liga Inggris musim 2015-2016. Tak perlu banyak perdebatan, tak perlu banyak keraguan. Juara baru EPL telah lahir di antara hiruk-pikuk kebisingan transfer besar klub “elite” Liga Inggris di awal musim ini telah terjawab.

Ketika kita kembali ke linimasa setahun yang lalu, rasanya sulit menerima kenyataan bahwa Leicester City saat ini berada di singgasana Liga Inggris, juara musim 2015-2016. Mengingat Pemain termahal Leicester yang didatangkan musim ini hanya bernilai 6,7 juta pounds. Itu pun atas nama N’Golo Kante Pemain tengah yang didatangkan dari Klub Prancis, Caen.

N’Golo Kante tidak begitu terkenal layaknya pemain baru sebuah klub “elite” Inggris yang setiap musimnya punya ambisi menjuarai Liga Inggris. Seperti; Chelsea yang di awal musim ini mendatangkan Pedro Rodriguez seharga 21,4 juta pounds, Manchester United mendatangkan Anthony Martial dengan harga 36 juta pounds.

Manchester City mendatangkan Rahem Sterling dengan harga 50 juta pounds atau Liverpool yang mendatangkan Firmino dengan harga 29 juta pounds. Bahkan jika dihitung lebih jauh lagi, harga pemain Leicester yang setiap minggu mengisi starting XI hanya bernilai 24,1 juta pounds.

Ketika kita juga memasang taruhan yang amat tinggi setahun yang lalu, rasanya sulit bagi kita memilih Leicester sebagai Juara musim ini. Mengingat tak satu pun situs judi di dunia ini yang menempatkan Leicester sebagai favorit juara. Alih-alih menjadi favorit juara, salah satu situs perjudian terbesar di Inggris William Hill malah hanya menempatkan tim ini dengan odds 1: 5000.

Artinya jika kita memasang 100 pounds untuk Leicester. Kita akan mendapatkan 500.000 pounds. Jangankan kita, mungkin para pemain, pelatih bahkan pemilik Leicester juga akan enggan memasang taruhan untuk Leicester menjuarai Liga Inggris musim ini.

Bahkan, Ketika kita memilih Leicester City di permainan Football Manager. Kemudian merombak tim, mengotak-atik formasi, menganalisis  permainan dan mengatur strategi. Rasanya sulit bagi kita bisa menjadikan Leicester sebagai juara liga dengan segala keterbatasan yang dimilikinya.

Leicester bukan klub kaya raya yang bisa sesuka hati mendatangkan dan melepas pemain layaknya Chelsea dan Manchester City. Leicester  bukan pula klub yang punya pusat latihan yang mumpuni layaknya Carrington kepunyaan Manchester United, Stadion yang tak semegah Emirates Stadium kepunyaan Arsenal. Tim ini juga tak punya sejarah besar bergelimang gelar layaknya Liverpool.

Tim ini hanyalah sebuah klub yang mencoba untuk menghindar dari zona degradasi, setelah musim lalu hanya berada di posisi ke-14 klasemen liga. Kemudian, mendatangkan pelatih “gagal” yang dipecat tim nasional Yunani akibat kekalahan melawan Kepulauan Faroe, salah satu tim nasional terlemah di Eropa.

Bandingkan saja dengan pelatih klub Inggris lainnya. Klub yang setiap tahunnya selalu punya ambisi memenangi liga Inggris. Sebut saja; Jose Mourinho (Chelsea), Van Gaal (Manchester United), Pellegrini (Manchester City), Arsene Wenger (Arsenal) dan Jurgen Klopp (Liverpool).

Tentu nama Claudio Ranieri bukan siapa-siapa dibanding nama-nama tersebut. Beberapa nama pelatih tersebut sudah pernah membawa tim yang dilatihnya berjaya di Eropa dan keseluruhan nama pelatih tersebut sudah mempersembahkan gelar liga untuk tim yang pernah dilatihnya. Sesuatu yang belum pernah dilakukan Claudio Ranieri.

Memorabilia Sparta

Perjalanan panjang Leicester City menjuarai Liga Inggris musim ini layak dikenang tidak hanya seluruh penggemar Liga Inggris tapi juga bagi seluruh penggemar sepak bola di dunia. Di era sepak bola modern yang didominasi kekuatan kapital, rasanya sulit bagi sebuah klub mampu bersaing.

Ditambah lagi, menjadi juara di Liga Inggris tanpa modal finansial yang kuat. Mengingat dari tahun ke tahun harga pemain sepak bola semakin tinggi dan semakin tidak masuk akal. Di samping itu keuangan klub harus selalu sehat agar terhindar dari sanksi Financial fair Play UEFA.

Kekuatan modal itu pulalah yang mampu mengubah sejarah klub Chelsea dan Manchester City yang dulu tidak pernah berpikir menjuarai liga namun akhirnya mampu menjadi favorit juara setiap musimnya. Namun, Leicester akhirnya membantah premis itu.

Kekompakan, keyakinan dan semangat juang pantang menyerah akhirnya mengantarkan Leicester menjuarai Liga Inggris musim ini. Perjuangan Leicester musim ini layaknya Pasukan Spartan yang hanya berjumlah 300 orang tapi mampu mengalahkan Pasukan Persia yang berjumlah 17.000 orang dalam Perang Thermopylae.

Perjuangan Leicester juga layaknya kemenangan Daud melawan Goliat di dalam cerita kitab-kitab agama Samawi di mana Daud yang berbadan kecil berhasil melawan ketidakmungkinan melawan Goliat yang badannya lebih mirip raksasa daripada manusia.

Leicester akhirnya membuktikan bahwa sepak bola bukan hanya soal kekayaan klub, bukan pula soal kalkulasi angka-angka transfer dan besaran gaji pemain setiap musimnya. Leicester membuktikan sepak bola adalah sepak bola, bukan matematika yang selalu rumit dipecahkan tanpa strategi dan rumus mutakhir.

Leicester menunjukkan bahwa peluang juara milik semua klub, bukan hanya milik segelintir klub “elite” tertentu dan memang harusnya begitu.

Bill Barnwell seorang Penulis di Media ESPN pada 1 April 2016 lalu menulis opini yang berjudul “The Leicester City miracle, and the 10 unlikeliest champions”. Tulisan ini mencatat, apa yang dilakukan Leicester City musim ini mirip dengan apa yang pernah dilakukan klub-klub di Eropa lain yang awalnya hanyalah klub semenjana menjadi klub juara di liga.

Tulisan ini membedah 10 klub olahraga yang menjuarai sebuah turnamen (liga) yang musim sebelumnya hanyalah tim underdog, di mana 5 di antara kejadian tersebut terjadi di sepak bola seperti klub serie A Italia, AC Milan yang menjuarai musim 1998-1999 dengan 70 poin, sementara musim sebelumnya (1997-98) hanya mampu meraih 44 poin dan berada di posisi 10 liga.

Klub La Liga Spanyol, Atletico Madrid yang menjuarai musim 1995-1996 dengan 87 poin yang pada musim sebelumnya (1994-95) hanya mampu mengumpulkan 35 poin dan berada di posisi 14 liga. Lalu, klub League 1 Prancis Montpellier yang menjuari musim 2011-2012 liga dengan 82 poin namun pada musim sebelumnya (2010-2011) hanya mampu mengumpulkan 47 poin dan berada di posisi 14 liga.

Klub Bundesliga Jerman Kaiserslautern yang menjuarai musim 1997-98 dengan 68 poin yang pada musim sebelumnya (1996-1997) hanyalah klub promosi di Bundesliga. Tentunya yang terakhir dan paling fenomenal adalalah tim yang dilatih pelatih emosional Brian Clough, Nottingham Forest yang menjuarai musim 1977-1978 dengan 64 poin yang sebelumnya (1976-1977) hanya merupakan klub promosi Liga Inggris.

Bahkan setahun setelah merajai inggris, 2 tahun berturut Nottingham Forest berhasil menjuarai European Cup (sekarang Liga Champions) di musim 1978-1979 dan 1979-1980.

Sekarang Leicester City juga telah membuktikan apa yang pernah dilakukan klub-klub underdog sampai mampu menjuarai Liga adalah sebuah keniscayaan. Keyakinan, kosistensi dan kegigihan telah membawa Leicester City menjadi sejarah baru dalam dunia sepak bola. Congratulation, The Foxes!!!

Dengan alasan hak cipta (copyright) atas artikel asal usul dengan judul Sejarah berdirinya klub sepakbola inggris leicester city yang merupakan hasil tulisan dari beberapa sumber yang ada di internet. suog.co hanya menampilkan sebagian isi dari Sejarah berdirinya klub sepakbola inggris leicester city. Untuk memudahkan pencarian artikel asal usul, suog.co juga menyediakan layanan pencarian artikel seputar sejarah, seperti Sejarah berdirinya klub sepakbola inggris leicester city yang dapat anda temukan dengan layanan pencarian yang sudah tersedia. Dan seluruh artikel asal usul yang terdapat di suog.co ini kami ambil dari beberapa blog atau situs kesenian dan sejarah yang sudah terpercaya. Oleh karena itu, jika anda ingin melihat lebih jelas Sejarah berdirinya klub sepakbola inggris leicester city secara lengkap, anda dapat mencari beberapa artikel sejarah pada kolom pencarian yang sudah di sediakan.

Artikel seni budaya di cari :

nama tarian dan aspek yang diamati, perias wajah bahasa inggris