Makna dan sejarah tradisi upacara adat rambu solo

Makna dan sejarah tradisi upacara adat rambu solo - Pencarian kesenian dan tarian budaya dengan kata kunci " Makna dan sejarah tradisi upacara adat rambu solo " di temukan di suog.co. Untuk mencari informasi atau artikel sejarah yang sesuai dengan tarian, lagu daerah, alat musik tradisional, budaya, gambar, kesenian, asal usul, asal muasal, cerita rakyat anda dapat menuliskan kata kunci yang ada pada kolom pencarian yang sudah tersedia.

Dengan semakin berkembang nya teknologi internet, situs suog.co berusaha untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan sejarah di dunia, khususnya kesenian. Situs suog.co memiliki ratusan artikel kesenian tari dan alat musik tradisional misal " Makna dan sejarah tradisi upacara adat rambu solo " yang di anda jadikan masukan atau bahan referensi ilmu pengetahuan anda.

Baca : Makna dan sejarah tradisi upacara adat rambu solo
Foto rambu solo

Foto rambu solo

Rumbu solo tana toraja – Rambu Solo adalah upacara adat kematian masyarakat Tana Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan menghantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan. Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian karena orang yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara ini digenapi. Jika belum, maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai orang “sakit” atau “lemah”, sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya orang hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi hidangan makanan dan minuman bahkan selalu diajak berbicara.

Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ribuan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah.

Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman. Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.

Puncak dari upacara Rambu solo ini dilaksanakan disebuah lapangan khusus. Dalam upacara ini terdapat beberapa rangkaian ritual, seperti proses pembungkusan jenazah, pembubuhan ornament dari benang emas dan perak pada peti jenazah, penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan, dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.

Selain itu, dalam upacara adat ini terdapat berbagai atraksi budaya yang dipertontonkan, diantaranya adu kerbau, kerbau-kerbau yang akan dikorbankan di adu terlebih dahulu sebelum disembelih, dan adu kaki. Ada juga pementasan beberapa musik dan beberapa tarian Toraja.

Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau. Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok. Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang sedang dalam “masa tertidur”. Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan bambu panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.

Kerbau yang disembelih dengan cara menebas leher kerbau hanya dengan sekali tebasan, ini merupakan ciri khas masyarakat Tana Toraja. Kerbau yang akan disembelih bukan hanya sekedar kerbau biasa, tetapi kerbau bule “Tedong Bonga” yang harganya berkisar antara 10 – 50 juta per ekornya.
Ada tiga cara pemakaman: Peti mati dapat disimpan di dalam gua, atau di makam batu berukir, atau digantung di tebing. Orang kaya kadang-kadang dikubur di makam batu berukir. Makam tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan. Di beberapa daerah, gua batu digunakan untuk meyimpan jenazah seluruh anggota keluarga. Patung kayu yang disebut tau tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar. Peti mati bayi atau anak-anak digantung dengan tali di sisi tebing. Tali tersebut biasanya bertahan selama setahun sebelum membusuk dan membuat petinya terjatuh.

Jenis-Jenis Upacara Rambu Solo

Berdasarkan status sosial orang atau tingkat ekonomi keluarga yang diupacarakan, aluk rambu solo’ dapat dibagi menjadi 4 jenis, yaitu:

  • Silli’, yakni upacara pemakaman untuk kasta paling rendah, yaitu kasta kua-kua atau budak. Upacara jenis ini tidak ada pemotongan hewan sebagai persembahan dan dibagi dalam beberapa bentuk, seperti dedekan (upacara pemakaman dengan memukulkan wadah tempat makan babi) dan pasilamun tallo manuk (pemakaman bersama telur ayam).
  • Pasangbongi, yakni upacara yang hanya berlangsung satu malam. Yang termasuk jenis ini antara lain bai a’pa’ (persembahan empat ekor babi), si tedong tungga (persembahan satu ekor babi), di isi (pemakaman untuk anak yang meninggal sebelum tumbuh gigi dengan persembahan seekor babi), dan ma’ tangke patomali (persembahan dua ekor babi).
  • Di batang atau di doya tedong, yakni upacara untuk kasta tana’ basi (bangsawan menengah) dan tana’ bulan (bangsawan tinggi). Selain kerbau, upacara jenis ini juga mempersembahkan babi dan ayam. Upacara biasanya digelar selama 3-7 hari berturut-turut. Pada akhir acara, dibuatkan sebuah simbuang (menhir) sebagai monumen untuk menghormati orang yang wafat.
  • Rapasan, yakni upacara khusus bagi golongan tana’ bulan (bangsawan tinggi) yang digelar selama 3 hari 3 malam. Termasuk upacara jenis ini, antara lain rapasan diongan (rapasan tingkat rendah hanya memenuhi syarat minimal persembahan 9-12 kerbau), rapasan sundun (rapasan lengkap persembahan 24 ekor kerbau dan babi tak terbatas), dan rapasan sapu randanan (rapasan simbolik dengan persembahan yang diandaikan 30 ekor kerbau).

Tingkatan dalam Upacara Rambu Solo

Upacara ini adalah semua upacara keagamaan yang mempersembahkan babi dan kerbau untuk arwah leluhur atau untuk orang yang meninggal dunia seperti upacara pemakaman secara adat, upacara ma’nene’. Upacara ma’nene’ adalah upacara memotong babi atau kerbau untuk orang yang sudah dikuburkan bertempat di pemakaman liang batu.
Kematian membawa malapetaka, penderitaan batin keluarga yang ditinggalkan dan bukan itu saja, tetapi membwa konsekuensi tanggung jawab solider seluruh anggota keluarga dan persyaratan agama dan adat yang harus dipenuhi agar jiwa seseorang akan damai dan selamat meninggalkan dunia yang fana ini menuju ke dunia yang tentram di Puya.

Dengan memberikan segala pengorbanan materi yangs anggup disediakan, anggota keluarga merasa menunaikan kewajiban dan tanggung jawab yang tidak dapat dielakkan selama anggota keluarga itu masih bersedia mengikuti tradisi adat, agama, dan persentase keluarga di mata orang di kampung.
Hampir seluruh kehidupan masyarakat Toraja difokuskan untuk upacara sesudah meninggal dunia, namun dalam melaksanakan upacara pemakaman secara adat dan terbuka, bergantung dengan kedudukan dalam masyarakat dan kemampuan seseorang.

Tingkat – tingkat upacara pemakaman dalam aluk todolo :

  • Disilli : upacara pemakaman yang paling sederhana. Dulu, orang miskin dari tingkatan budak sering dikuburkan dengan cara yang menyedihkan, misalnya dengan hanya membekali mayat dengan  telur ayam, tetapi sekarang rata – rata keluarga menguburkan orang mati dengan memotong seekor babi. Upacara penguburan disilli adalah aluk golongan masyarakat budak, terutama untuk menguburkan anak yang belum dewasa.
  • Anak yang lahir dan meninggal ditanam bersama urihnya tanpa upacara keagamaan. Sedangkan, anak yang meninggal sebelum giginya tumbuh, dimasukkan ke dalam pohon kayu besar dengan upacara sederhana dan tanpa pembalut kain.Pohon tempat penguburan ini disebut LIANG PIA atau PASSILLIRAN. Kedua cara penguburan ini, berlaku bagi semua golonga, baik golongan bangsawan maupun golongan rendahan.
  • Dipasangi Bongi. Upacara penguburan orang mati yang acaranya hanya satu malam di rumah dan hanya seekor kerbau dipotong dan beberapa ekor babi. Upacara ini bagi orang tua dari golongan terendah atau golongan menengah yang tidak mampu ekonominya.
  • Dipatallung Bongi. Upacara penguburan ini berlangsung selama tiga malam di rumah. Empat ekor kerbau dipotong dan babi sekitar sepuluh ekor. Hari kedua, tamu datang membawa sumbangan berupa babi, tuak, dan umbi – umbian. Beberapa tempat nasi tidak boleh dimakan di tempat itu dan semua keluarga terdekat mempunyai kewajiban untuk pantang makan nasi selama berlangsungnya upacara dan beberapa hari sesudah upacara. Selama tiga malam berturut – turut diadakan acara ma’badong.
  • Dipalimang Bongi. Upacara pemakaman yang berlangsung selama lima hari lima malam. Hari ketiga adalah hari penerimaan tamu. Tamu atau kenalan mendapat kesempatan membawakan sumbangan berupa minuman tuak, buah – buahan, umbi – umbian, kerbau, rokok ataupun  gula pasir.
  • Sembilan ekor kerbau dan puluhan ekor babi dipotong. Patung orang yang meninggal itu dibuat dari bamboo. Patung itu disebut TAU – TAU LAMPA. Tau – tau ini dihiasi dengan pakaian adat tetapi pada waktu hari penguburan, pakaian dan perhiasan diambil kembali. Tidak semua kampung mengadakan pemakaman seperti ini. Upacara pemakaman ini merupakan upacara tingkat yang paling tinggi.
  • Pada malam terakhir diadakan persiapan untuk satu acara khusus yang disebut acara MA’PARANDO, dimana semua cucu almarhum yang sudah gadis, diarak pada malam hari, duduk diatas bahu laki – laki dengan perhiasan semacam pakaian penari yang terdiri dari perhiasan emas goyang dan kandaure. Mereka dibawa keliling rumah tiga kali dengan memakai obor. Para penonton memuji kecantikan gadis, namun adapula yang mencemoohnya. Orang yang mencemooh tidak dimarahi selama masih dalam batas – batas norma kesusilaan.
  • Sepanjang lima malam selalu dilakukan ma’badong. Seluruh anggota keluarga berpantang tidak makan nasi sampai seluruh embel – embel acara selesai.
  • Dipapitung Bongi. Upacaranya 7 hari 7 malam. Setiap malam dan setiap hari ada acara pemotongan kerbau dan babi. Keluarga terdekat pantang makan nasi selama acara berlangsung. Acara hari penerimaan tamu lebih meriah banyak babi dipotong, kerbau 9 sampai 20 ekor. Kepala kerbau diperuntukkan bagi rumah tongkonan dan daging kerbau diberikan kepada tamu dan penduduk desa.
  • Dirapai. Upacara penguburan orang mati yang paling mahal ialah mangrapai karena dua kali diupacarakan sebelum dikubur. Upacara pertama diadakan di rumah tongkonan dan kemudian diistirahatkan satu tahun, baru upacara kedua diadakan. Upacara pertama dalam bahasa daerah disebut dialuk pia. Pada upacara kedua, orang mati diarak dengan pikulan ratusan orang dari rumah tongkonan ke rante (tempat upacara kedua).
  • Upacara ini disebut ma’paolo / ma’pasonglo’. Orang mati dibungkus kain merah dilapisi emas, diikuti oleh tau-tau dan janda almarhum dalam usungan yang dihiasai emas serta diiringi oleh puluhan ekor kerbau jantan yang berhias yang siap untuk diadu satu lawan satu. Setelah tiba dir ante, mayat dinaikkan ke satu bangunan tinggi khusus tempat orang mati itu (lakkian). Acara – acara lain menyusul, seperti acara adu kerbau, acara sisemba, dan acara tari – tarian.

Dirapai dibagi menjadi tiga :

  • Rapasan dilayu-layu dengan target terendah dua belas ekor kerbau.
  • Rapasan sundun dengan target minimum 24 ekor kerbau yang dipotong.
  • Rapasan sapurandanan dengan jumlah kerbau yang dipotong paling rendah 30 ekor.
  • Ketiga tipe rapasan ini memotong babi ratusan ekor dan puluhan kerbau belang yang mahal harganya.
  • Pada rapasan sapurandanan, kerbau yang dipotong terdiri dari semua warna bulu kecuali warna kerbau putih (tedong bulan).

Jenis kerbau dan tingkatan nilanya :

  • Tedong bulan (kerbau putih), tidak termasuk penilaian.
  • Tedong sambao’ (kerbau abu – abu), dinilai paling rendah.
  • Tedong todi’, berwarna putih sediikit di antara dahi dan tanduk.
  • Tedong pangloli, berwarna putih pada ujung ekor.
  • Tedong pudu’, berwarna hitam.
  • Tedo bonga sori dan kapila, berwarna belang pada bagian kepala.
  • Tedong bonga dan saleko, berwarna belang, bernilai paling tinggi.

Selain itu,  kerbau dinilai dari bagusnya tenduk dan kegemukan badannya. Kerbau belian dan kerbau sambo ra’tuk termasuk yang mahal harganya. Balian ialah kerbau yang dikebiri dan panjang tanduknya. Sedangkan kerbau sambo’ ratuk berwarna putih bintik – bintik di seluruh badan.

Bagi masyarakat Tana Toraja, orang yang sudah meninggal tidak dengan sendirinya mendapat gelar orang mati. Bagi mereka sebelum terjadinya upacara Rambu Solo’ maka orang yang meninggal itu dianggap sebagai orang sakit. Karena statusnya masih ’sakit’, maka orang yang sudah meninggal tadi harus dirawat dan diperlakukan layaknya orang yang masih hidup, seperti menemaninya, menyediakan makanan, minuman dan rokok atau sirih. Hal-hal yang biasanya dilakukan oleh arwah, harus terus dijalankan seperti biasanya.

Sedangkan penggunaan musiknya yaitu Musik suling, nyanyian, lagu, puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah. Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman dalam “masa tertidur”.

Dengan alasan hak cipta (copyright) atas artikel asal usul dengan judul Makna dan sejarah tradisi upacara adat rambu solo yang merupakan hasil tulisan dari beberapa sumber yang ada di internet. suog.co hanya menampilkan sebagian isi dari Makna dan sejarah tradisi upacara adat rambu solo. Untuk memudahkan pencarian artikel asal usul, suog.co juga menyediakan layanan pencarian artikel seputar sejarah, seperti Makna dan sejarah tradisi upacara adat rambu solo yang dapat anda temukan dengan layanan pencarian yang sudah tersedia. Dan seluruh artikel asal usul yang terdapat di suog.co ini kami ambil dari beberapa blog atau situs kesenian dan sejarah yang sudah terpercaya. Oleh karena itu, jika anda ingin melihat lebih jelas Makna dan sejarah tradisi upacara adat rambu solo secara lengkap, anda dapat mencari beberapa artikel sejarah pada kolom pencarian yang sudah di sediakan.

Artikel seni budaya di cari :

artikel bahasa inggris tentang upacara bali dan terjemahannya, jual sunting nari