Makna dan sejarah peringatan hari buku nasional

Makna dan sejarah peringatan hari buku nasional - Pencarian kesenian dan tarian budaya dengan kata kunci " Makna dan sejarah peringatan hari buku nasional " di temukan di suog.co. Untuk mencari informasi atau artikel sejarah yang sesuai dengan tarian, lagu daerah, alat musik tradisional, budaya, gambar, kesenian, asal usul, asal muasal, cerita rakyat anda dapat menuliskan kata kunci yang ada pada kolom pencarian yang sudah tersedia.

Dengan semakin berkembang nya teknologi internet, situs suog.co berusaha untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan sejarah di dunia, khususnya kesenian. Situs suog.co memiliki ratusan artikel kesenian tari dan alat musik tradisional misal " Makna dan sejarah peringatan hari buku nasional " yang di anda jadikan masukan atau bahan referensi ilmu pengetahuan anda.

Baca : Makna dan sejarah peringatan hari buku nasional
Buku bacaan

Buku bacaan

Asal mula hari buku nasional – Setiap tanggal 17 Mei di Negara Indonesia merupakan sebuah hari besar peringatan, yaitu Hari Buku Nasional. Mungkin (sangat) sedikit orang yang mengetahui bahwa 17 Mei diperingati sebagai hari buku nasional. 17 Mei sendiri dipilih karena bertepatan dengan pendirian Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) di Jakarta pada tanggal 17 Mei 1980.

Menteri Pendidikan Nasional Abdul Malik Fadjar mencanangkan tanggal 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional. Pencanangan Hari Buku Nasional yang pertama itu terjadi pada tahun 2010. Ide adanya Hari Buku datang dari masyarakat perbukuan guna memacu minat baca masyarakat Indonesia, sekaligus menaikkan penjualan buku. Pasalnya minat baca di Indonesia khususnya masih bisa dibilang cukup minim. Kondisi ini tercatat satu buku dibaca sekitar 80.000 penduduk Indonesia. Terbukti kemudian, sedikit banyaknya peringatan Hari Buku mampu memberikan dampak positif dalam menyadarkan masyarakat tentang pentingnya buku. Hari ini, setelah dicanangkan lebih dari tiga 5 tahun lalu, visi besar dari peringatan Hari Buku masih tidak jauh berbeda. Namun, ada beberapa hal yang masih perlu ditelisik dan dimaknai kembali secara lebih jauh. Sebenarnya selain tanggal 17 Mei, ada pula peringatan hari buku sedunia yang jatuh pada tanggal 23 April. Terkadang masyarakat bangsa ini lebih banyak memilih untuk merayakan dan mengingatkan tentang Hari Buku Dunia dibandingkan dengan Hari Buku Nasional, sangat disayangkan. Hal tersebut terbukti ketika kalian mencari artikel tentang hari buku nasional di google jumlahnya akan sangat sedikit.

Asal usul hari buku nasional

Secara sederhana buku adalah kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu yang berisi tulisan-tulisan atau gambar. Sejarah sendiri mencatat Mesir (2400-an SM) merupakan negeri pertama yang melahirkan buku (kuno). Namun Buku itu, belumlah berbentuk seperti sekarang. Buku kuno ketika itu masih berupa tulisan yang tercetak diatas keping-keping batu (prasasti) atau kertas yang terbuat dari daun Papyrus (Papyrus adalah tumbuhan sejenis alang-alang yang tumbuh di tepi sungai Nil). Mesir pula yang mencatatkan diri sebagai bangsa pertama yang mengenal tulisan, tulisan mesir kuno umumnya disebut Hieroglif: yaitu tulisan yang bentuk hurufnya berupa gambar-gambar. Memasuki awal abad pertengahan Papyrus kemudian diganti dengan codek (lembaran kulit domba terlipat yang dilindungi kulit kayu) kemudian diganti lagi menjadi perkamen (kertas kulit). Perkembangan dari codek ke perkamen sendiri besar dipengaruhi oleh orang-orang Timur Tengah yang menggunakan kulit domba yang disamak kemudian dibentangkan, bentangan kulit ini yang awalnya dinamakan pergamenum kemudian disebut perkamen. Perkamen lebih kuat dan mudah dipotong serta mudah dilipat sehingga lebih mudah digunakan, inilah yang menjadi cikal awal sebuah buku yang dijilid. Di Indonesia sendiri, pada zaman dulu Buku kuno umumnya ditulis di atas daun lontar yang kemudian dijilid hingga membentuk sebuah buku.

Buku-buku kuno tersebut semuanya ditulis dengan tangan, namun seiring berkembangnya zaman turut pula berkembang ilmu pengetahuan manusia. Perubahan besar dalam perbukuan dimulai ketika ditemukannya kertas oleh Cai Lun (105 M): seorang berkebangsaan Cina yang membuat kertas dari kulit kayu murbei serta ditemukannya mesin cetak (abad 15) oleh seorang berkebangsaan Jerman, Johanes Gutenberg. Penemuan mesin cetak ini sekaligus menandai berakhirnya era ortodok penulisan tangan untuk sebuah buku.

Makna hari buku nasional

Seorang negarawan Romawi Kuno: Marcus Tullius Cicero pernah mengatakan “A room without book is like body without a soul” – sebegitu pentingkah arti sebuah buku hingga dianalogikan ruang tanpa buku layaknya tubuh tanpa jiwa. Ya tanpa jiwa! Jika sudah demikian adanya apalah lagi arti tubuh jika tidak mengandung jiwa, ia (baca: tubuh) hanya akan menjadi seonggok daging berjalan dan bernyawa tanpa mengenal passion, tanpa mengenal kewajibannya sebagai seorang manusia, karena tak mengenal (lagi) kewajibannya sebagai seorang manusia maka implikasinya ia-pun tentu tak mengenal lagi akan Tuhannya. Kenalilah dirimu terlebih dahulu jika ingin mengenal Tuhanmu.

Makna hari buku nasional

Banyak orang menyadari betapa pentingnya mengembangkan diri, baik secara pengetahuan maupun kerohanian. Salah satu cara mengembangkan diri secara pengetahuan adalah dengan banyak membaca. Dengan membaca, seseorang akan mendapatkan banyak wawasan baru, dan pengetahuannya akan terus diperbarui. Untuk itu, buku ataupun sumber bacaan yang lain sangat diperlukan oleh masyarakat Indonesia supaya keterampilan dan pengetahuan mereka bisa dikembangkan.

Andrie Wongso pernah mengatakan: “Saya dan kita semua sungguh beruntung dan patut berterima kasih kepada para penulis buku. Mereka adalah para dermawan ilmu pengetahuan, pembuka jendela wawasan dunia, dan informasi bagi manusia, pembaca dan pembelajar”. Memang benar, kita sadari atau tidak, ternyata semua aspek kehidupan kita membutuhkan buku sebagai suatu yang primer.

Perkembangan buku

Derasnya perkembangan teknologi di era ini, telah membawa banyak perubahan dalam berbagai aspek di masyarakat. Kemunculan internet telah mampu memberikan banyak kemudahan. Melalui internet, berbagai pengetahuan, berita, dan informasi lainnya yang kita butuhkan begitu mudah didapat dalam waktu cepat. Tentunya ini telah menggeser kedudukan buku sedikit demi sedikit.

Hal itu terbukti di banyak tempat, jumlah pengunjung perpustakaan dan minat pembelian buku menjadi berkurang. Namun, terlepas dari menurunnya peran buku, banyak yang masih percaya pada kemampuan buku untuk menyebarkan informasi, berita, dan pengetahuan di tengah perkembangan internet, radio, televisi, komputer, atau apa saja pada era modern.

Belakangan ini, menjadi trend baru –terutama di kalangan mahasiswa– yang suka berburu buku-buku berbentuk digital. Buku-buku referensi kuliah yang berjilid-jilid tebalnya, bisa diubah dalam bentuk file data menjadi hanya beberapa megabyte saja. Hal ini seharusnya bisa dimaknai secara positif oleh berbagai kalangan.

Adanya internet bukan menuntut pelaku buku untuk membencinya, namun adalah untuk mengimbangi dan memberikan pilihan alternatif. Satu alternatifnya dan tugas tambahan para pelaku dalam dunia perbukuan adalah dengan mencetak buku-buku dalam bentuk digital (e-book). Demikian pula halnya pelaku perpustakaan, supaya dapat terus mempertahankan pengunjung setiap harinya, maka beralih untuk mulai menyediakan koleksi buku-buku digital dan memanfaatkan prinsip pelayanan terbaik berbasis teknologi dan internet yang mudah di akses, mutlak dibutuhkan.

Yang pasti, baik SMS, e-mail, Fb, Twitter, maupun surat biasa lewat pos adalah sarana pembiasaan menulis dan mengemukakan pendapat secara tertulis yang tertata. Pasti ada sisi positifnya, sekecil apapun ia. Untuk tahap awal, amat prematur kalau kita langsung bicara soal mutu tulisan. Semua orang silakan saja menulis: mau menulis cerita fakta, silakan. Mau fiksi, boleh-boleh saja. Mau novel pop, novel picisan, atau novel sastra, semuanya sah-sah saja. Nanti masyarakat yang menilai.

Dengan alasan hak cipta (copyright) atas artikel asal usul dengan judul Makna dan sejarah peringatan hari buku nasional yang merupakan hasil tulisan dari beberapa sumber yang ada di internet. suog.co hanya menampilkan sebagian isi dari Makna dan sejarah peringatan hari buku nasional. Untuk memudahkan pencarian artikel asal usul, suog.co juga menyediakan layanan pencarian artikel seputar sejarah, seperti Makna dan sejarah peringatan hari buku nasional yang dapat anda temukan dengan layanan pencarian yang sudah tersedia. Dan seluruh artikel asal usul yang terdapat di suog.co ini kami ambil dari beberapa blog atau situs kesenian dan sejarah yang sudah terpercaya. Oleh karena itu, jika anda ingin melihat lebih jelas Makna dan sejarah peringatan hari buku nasional secara lengkap, anda dapat mencari beberapa artikel sejarah pada kolom pencarian yang sudah di sediakan.

Artikel seni budaya di cari :

contoh menggambar gitar di buku gambar